Hai haiii, selamat malam, selamat pagi, selamat siang dan selamat makan 😘 assalamualaikum, semoga selalu sehat, bahagia, juga dalam keberkahanNya. Sudah makan daging busuk saudara sendiri hari ini.? 🙈

Ewwww, celotehan kali ini nggak ada maksud apa-apa. apalagi bermaksud sombong, sok suci. murniiii, hanya bermaksud untuk mengingatkan diri sendiri dalam pengembaraan ini, juga meminta bantuan teman-teman untuk mengingatkan juga menegur saya, saat saya yang banyak kekurangan ini mulai ngemil bangkai saudara sendiri. Ah, kita sama-sama tau kan, maksud dari bangkai saudara sendiri.? Yesssss, aib orang lain. Emang beda tipis ya, antara klarifikasi dengan ngerumpi. Ya kan.? Hahahahha… Apalagi rumpi ngebahas orang lain. Sampe lupa kalo diri sendiri punya lebih banyak aib yang mestinya ditutupin -uhmmm, mungkin lebih tepatnya diperbaiki- huhuhuuu, astaghfirullah

“Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” [Shahih Muslim]

Nah, ngerinya lagi, rumpi jaman now nggak melulu harus bertatap muka, nggak perlu melingkar sambil minum jus atau es teh, tapi bisa lewat ponsel pintar, entah lewat media sosial atau jalur pribadi. Jaman sekarang brasa dikasih fasilitas untuk rumpi berjamaah, kapan pun dimana pun dengan siapa pun. Padahal, saat kita ngomongin orang -menggunjing- kita hanya akan memasukkan kejelekan-kejelekan di hati kita, ibarat kita memasukkan sampah di rumah. Gimana enggak.? saat menggunjing pasti yang dibicarakan adalah hal-hal buruk dari orang lain. Ya kan? Awalnya kita yang nggak tau apa-apa jadi ikut berprasangka ke orang yang digunjingin. Toh lagi pula, apa yang kita lakukan tidak akan mengubah dia jadi lebih baik. Beda cerita kalo kita ‘ngerumpi’ ke orang yang memang akan memberi solusi, ke orang yang ahli, orang yang berkompeten. –hahhahaa, semoga kalimat terakhir barusan bukan suatu pembelaan 🙈 —

dapat gambar ini dari facebook 😀

Seorang guru pernah kasih nasehat (yang intinya), kalau kita melihat keburukan orang lain, lama-lama keburukan sendiri nggak kelihatan. Seperti peribahasa: gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.

Eh tapi ada loh orang yang malah dengan sukarela menceritakan aibnya sendiri ke orang lain, termasuk maksiat yang pernah dia lakukan. Kalau yang saya tau, kejelekan itu nggak perlu diumbar  apalagi biar orang lain tau. Cukup “selesaikan” dengan orang yang terlibat lalu taubat. Allah selalu menanti taubat orang yang telah berbuat maksiat. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Alloh. Alloh itu maha besar, termasuk  ampunanNya. Tebus kesalahan-kesalahan dengan hal-hal baik, apalagi jika berkaitan dengan orang. Ketika kita dzalim terhadap seseorang, Allah tidak akan ridho sebelum orang yang kita dzalimi itu ridho. Cmiiw

eh ini nulisnya kemana-mana, balik ke daging busuk. huhuuuu… 😂🙈  Mohon maaf jika saya pernah mengajak teman-teman untuk ngemil daging busuk. Mohon saya diingatkan dan ditegur, apabila klarifikasi berubah jadi ghibah asik. Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah.. –hahhahahaa, entah kenapa pengen ketawa ya dengan istilah ghibah asik —

Saatnya mengganti camilan daging busuk dengan buah. Selamat makan buah.! 😘
Ngomong-ngomong, kurma muda juga buah loh.! Penasaran rasa kurma muda? bisa kontak saya yaaaa… wkwkkwkwkwkw 😂😂🙈

Semoga kita menjadi pribadi yang gajah di pelupuk mata tampak, hingga semut di seberang lautan makin nggak kelihatan. maafkan saya…
Semoga Alloh selalu membimbing dan memberi petunjuk jalan yang lurus untuk kita.! amin amin….

Yogyakarta, 10 Januari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *