Selamat Idul Adha!

Tahun ini Kamu kurban apa?
Eh, apa? Aku nggak denger.
Oh… Kurban perasaan. Nggak jadi toss kalau gitu :p

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Idul Adha 1439 H ini, pertama kalinya aku solat ied tanpa keluarga. Iya maklum, dari kecil sampe tetap sekecil ini, aku di sini-sini aja, di kota yang katanya terbuat dari kenangan juga angkringan, Yogyakarta. Jadi tiap kali hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, selalu kumpul dengan keluarga. Tahun lalu, dibela-belain dari Ibukota pulang ke Yogya untuk bisa solat ied di 10 Dzulhijjah bersama keluarga besar, nyate juga nongseng bersama dengan bahagia gembira. Tapi tidak untuk tahun 2018 kali ini. Tuhan memperjalanku hingga tak ‘merayakan’ lebaran haji bersama orang-orang tersayang. Meskipun demikian, kami tetap merayakan hari besar ini dengan bahagia juga gembira .

Ngomong-ngomong merayakan hari besar tanpa keluarga, aku jadi ingat tentang fase mensyukuri 1 Syawal di tanah rantauan untuk pertama kalinya (juga). Sekalinya tanpa keluarga, sekaligus di negeri minoritas muslim, Jerman. What a great.!

“Selamat hari raya! Ied Mubarak.”
Sapa wanita dari arah jam 10 menggunakan Bahasa Indonesia dengan jelas meski sedikit terbata. Wanita berkulit putih, kontras dengan kerudung hitamnya. Wanita berhidung mancung, bermata biru. Wanita yang aku ragu apakah seorang Jerman muslim atau berkebangsaan Turki. Mengapa Turki yang ada dalam pikiranku? Sebab muslim di Jerman didominasi oleh bangsa Turki. Mereka telah menetap cukup lama di Jerman, termasuk di Hannover, tempat kami tinggal.

Jangan bayangkan suasana lebaran di Jerman mirip dengan lebaran di Tanah Air. Lebaran Idul Fitri (Zuckerfest) bukan merupakan libur nasional Jerman, sehingga aktivitas kehidupannya berjalan seperti hari-hari biasa. Yang kuliah ya kuliah, yang kerja ya kerja, yang jalan-jalan piknik ya tetep piknik. Meskipun demikian, komunitas muslim Indonesia selalu saja punya cara untuk tetap menciptakan suasana Idul Fitri seperti di Tanah Air, terutama di Kedutaan Republik Indonesia dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Panitia perayaan Idul Fitri akan mengundang warga muslim Indonesia untuk solat Idul Fitri berjamaah, syawalan halal bi halal, juga makan bersama. Nggak ketinggalan biar Indonesia banget, hidangan tetap menu Indonesia, kupat opor beserta teman-temannya.

Jerman_Idul fitri
Suasana selepas Solat Idul Fitri di Masjid A-Ghuroba, Hannover- Jerman; Zuckerfest 2016

Di Hannover terdapat beberapa masjid yang mengadakan solat ied, seperti Masjid Muhammad, Masjid Ayasofia Weidendamm, Masjid Al-Ummah, Vier Grenzen, Masjid Al-Ghuroba, dan Masjid Kurdi Steintor. Solat ied biasanya dilakukan pada pagi hari, yaitu pukul 07.00 CEST. Ada juga yang dimulai pukul 09.00 CEST. Warga Indonesia yang berada di Hannover (Keluarga Muslim Hannover) biasanya bergabung untuk solat berjamaah di Masjid Muhammad. Sebab aku terlambat, maka aku tidak bergabung dengan saudara setanah air. Aku mencari masjid yang solat ied-nya belum dimulai. Selain kesan lebaran pertama jauh dari keluarga, fase ini juga berkesan karena dramanya, mulai dari mengejar kereta hingga lari-lari kecil dari stasiun menuju masjid. Pokoknya berasa heroik gitu. Lebih tepatnya drama bangetlah. Hingga akhirnya aku bisa solat Idul Fitri di Masjid Al-Ghuroba

Selesai solat ied, Keluarga Muslim Indonesia berkumpul di salah satu warga yang open house. Tahun 2016 itu, kami berkunjung ke rumah Uni Aini. Kangen keluarga di Tanah Air pun sedikit terobati dengan berkumpulnya sesama orang Indonesia, juga adanya masakan nusantara buatan Uni. Kabar baiknya, Uni Aini ini pintar masak. Semua makananya manteb 😀

Alhamdulillah. Segala puji bagi Alloh, yang puji-pujian hanya patut untukNya.

“Gimana rasanya?” tanya beberapa kerabat.
“Sepi, seru, dan haru.” Aku nyeplos gitu aja melalui aplikasi whatsapp.
Sepi.
Seperti yang sudah aku sampaikan di awal, ini karena seumur-umur, dari kecil sampe tetep sekecil ini tiap lebaran selalu rame rewo-rewo di Jogja. Keluarga besar di Jogja. apalagi ditambah jodoh yang orang Jogja. Kali ini harus terpisah oleh jarak dengan orang-orang kesayangan, dan parahnya aku menjadi jamaah putri sendiri dari Indonesia yang solat di Masjid Al-Ghuroba.
Seru.
Sebab selalu ada hal-hal baru. Kejadian tak terduga. Termasuk berburu masjid yang belum selesai solat ied. Mendapat pengalaman setelah selesai solat ied yang dilanjut dengan jamuan makan, biasanya berupa makanan manis. Kembang gula juga disuguhkan dalam porsi istimewa. Itulah mengapa, lebaran (Idul Fitri) disebut dengan Zuckerfest. Dimana dalam bahasa Jerman, zucker berati gula dan fest berarti pesta atau perayaan.
Haru.
Berkumpul dengan kaum muslim yang berasal dari berbagai negara, warna kulit yang berbeda, latar belakang berbeda. Satupun aku tidak kenal mereka (sebab teman-teman se-tanah air, solat di masjid lain). Ucapan “ahlan wa sahlan” sebagai sambutan ketika memasuki ruangan khusus jamaah wanita, pelukan tulus, doa untuk keselamatan yang saling di langitkan. Ah, benar-benar terasa indahnya Islam. Haru memuncak ketika dibumbui ucapan “Selamat hari raya”, dari seseorang yang bukan Indonesia. (Hahahha, yang ini rada lebe. Tapi serius, ini bikin haru)

Taqobalallahuminna waminkum.
Taqobbal yaa kariim.
Ich wünsche allen Muslimen ein Frohes Zuckerfest!!!

Jerman_shaff putri
di ruangan jamaah wanita inilah “Selamat hari raya. Ied Mubarak.” diucapkan


Eh, itu tadi tentang Idul Fitri ya. Bukan Idul Adha. Kalau tentang Idul Adha di Jerman, tidak ada prosesi menyembelih hewan kurban setelah solat ied seperti di Tanah Air. Di Jerman nggak bisa nggak boleh seenak udel sendiri menyembelih hewan, termasuk hewan untuk berkurban. Warga muslim Indonesia di Jerman yang ingin berkurban, biasanya menyalurkan dalam bentuk uang ke lembaga kemanusiaan nasional di Tanah Air.

Jadi Idul Adha kali ini , Kamu sudah makan daging apa? Sapi atau kambing?
Bebasss, Kak. Bebasss.! Asal nggak makan daging busuk saudara sendiri aja. Bhahaaaa

Semoga kita selalu bisa meneladani ketaqwaan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s., di mana pun kita berada, di belahan bumi Allah mana pun.

 

One Reply to “Dari Seseorang yang Bukan Indonesia: Selamat Hari Raya.”

Leave a Reply to dhitaerdittya Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *