“Sama pernah kepikiran bunuh diri kah? Atau habis nonton film pembunuhan?”

Sampailah aku pada pertanyaan itu. Aku ketik di aplikasi whatsapp. Enter.

Kemarin, 9 Oktober 2018, ada teman yang setor tulisan tangan milik temannya untuk dianalisa, atas  permintaan si penulis tangan. Aku belum pernah jumpa dengan beliau. Kenal pun tidak. Nggak lama kemudian, aku mendapat balasan seperti gambar ini:

SC balasan

Ini bukan kali pertama nemu tulisan tangan yang ada suicidal traits-nya. Dan  ketika aku konfirmasi hampir selalu dijawab “iya”. Terus pernah nggak, dibalas “tidak”? Pernah. Sekali-dua kali. Justru aku berharap semoga aku salah -untuk bagian suicidal traits saja, kalau aspek yang lain berdoanya benar. Nggak boleh salah donk ya, kalau banyak salahnya bisa-bisa dipertanyakan kredibilitasku sebagai grafolog. Hahhahaa-. Sayangnya, hampir 99% meng-iya-kan pertanyaanku tentang keinginan bunuh dirinya.

Oke lanjut. Jadi, tiap kali nemu tanda itu, jantungku berdetak lebih kencang, untungnya nggak sampe seperti genderang mau perang. (Haaaa, nggak lucu ya? Oke, bagian ini abaikan). Sebenarnya, saat nulis ini pun, aku memerlukan keberanian dan energi yang lebih, pastinya juga sejajen lebih (baca: camilan). Ada rasa semacam pengen maju mundur cantik tiap kali nulis tentang bunuh diri. Alhamdulillah, hari ini tekad membulat agar segera berceloteh tipis di blog. Biar segera sah gitu ya, nggak punya hutang karena sempat ku senggol di celetukan Analisa Tulisan Tangan, Cenayang kah?

Bismillah… Semoga bahasa yang kupilih mudah dipahami :*

Dalam Encyclopedia Britannica, suicide (bunuh diri) diartikan sebagai sebuah usaha seseorang untuk mengakhiri hidupnya dengan cara suka rela atau sengaja. Kata suicide itu sendiri berasal dari kata latin Sui dan Caedere, yang mana Sui memiliki arti diri (self) dan Caedere berarti membunuh (to kill). Sudah banyak bacaan yang membahas tentang bunuh diri dari segi psikologi juga agama, nah kali ini aku akan sedikit berceloteh dari segi graphology dan dari segi aku sebagai pendengar cerita mereka.

Keinginan seseorang untuk bunuh diri biasanya karena ia depresi berat. Tidak mengungkapkan apa yang dia rasa. Ah, bisa jadi yang bersangkutan juga bingung tentang apa yang ingin diungkapkan, bagaimana memulai untuk menyampaikan, pada siapa ia bercerita. Jadi semacam: bingung-bingung sendiri, mikir-mikir sendiri, hingga sampailah pada titik tertentu, di mana orang tersebut berada pada batas kemampuan dirinya dalam menahan masalah. Biasanya, (keinginan) bunuh diri dilakukan secara diam-diam sehingga sulit untuk dicegah. Nah, dengan kita tahu ciri tulisan tangan seseorang yang berkeinginan bunuh diri, semoga kita bisa turut serta mencegahnya.

Pernah suatu hari, aku menemukan suicidal traits di tulisan tangan teman. Yang dia tulis tidak ada kaitannya dengan masalah yang dia hadapi. -Sssttt, ini rahasia, misal dia nulis masalahnya pun, aku tidak membaca isinya. Heeee- Oke lanjut. Oh ya, sejujurnya aku cukup terkejut menemukan tanda itu di tulisan mereka. Iya ‘mereka’ karena nggak cuma satu dua orang aja yang tipenya gini. Aku mengenal mereka sebagai pribadi yang ceria. Tampak bahagia dan baik-baik saja. Ini bukan kemudian menujukkan bahwa orang yang tanpak ceria, bahagia, dan baik-baik saja pengen bunuh diri loh ya. Bisa-bisa aku diprotes ini.

Nah di akhir sesi, dengan hati-hati aku tanya ke yang bersangkutan, “udah berapa kali pengen bunuh diri?”

Dia tak kalah terkejutnya seperti aku. Tak lama kemudian pecahlah tangisnya.

Dari situ, kemudian dia bercerita. Setelahnya merasa lebih lega. Lebih plonk. Meski aku juga nggak bisa kasih komentar apa-apa. Setidaknya, dia memiliki (sedikit) harapan. Layaknya senja, selalu menawarkan hari yang baru. Bhahaaaaa. Atau jika kita punya kapasitas lebih, bisa juga kita kasih cara pandang yang berbeda dari cara dia memandang. Sudut pandang, bahkan jarak pandang.

Tidak semua orang yang depresi itu pengen bunuh diri, pun sebaliknya tidak semua orang yang terbaca keinginan bunuh diri-nya sedang depresi. Nah gimana itu?

Ketika ditemukan ciri keinginan untuk bunuh diri dalam tulisan tangan seseorang , bukan berarti dia sedang ingin bunuh diri saat itu. Bisa jadi itu keinginnya bertahun-tahun lalu. Bahkan yang aku ‘temui’ di tengah bulan Oktober ada yang berkeinginan bunuh diri saat kelas 3 atau 4 SD sedangkan sekarang yang bersangkutan sudah duduk di bangku kuliah. Tapi jika dalam tulisan tangannya ada kombinasi depresi, besar kemungkinan keinginan bunuh dirinya masih fresh. Atau saat dia menulis memang sedang dalam proses perencanaan bunuh diri. Fiuhhh, semoga kita selalu dalam bimbingan dan lindungan Allah. Amin.

Dulu, duluuuuu banget. Aku berpikir bahwa orang yang ingin (bahkan sudah) bunuh diri itu karena imannya tidak kuat. Kalau orang-orang bilang, mereka jauh dari Allah. Aku pernah diskusi juga dengan seorang teman, dia berpendapat bahwa salah satu penyebabnya karena yang bersangkutan berlebihan dalam menyandarkan jiwanya pada sesuatu yang kurang tepat (kurang benar) atau bisa juga disebabkan karena salah tujuan.

“Uhmmm, tapi Kak, ada loh klien ku yang secara agama bagus. Setidaknya yang tampak mata. Ada juga teman yang lain, hafalan Al-Quran, rajin kajian, dst dsb. Aku tau mereka selalu berusaha mendekatkan diri pada Rabb-nya. Tapi mereka tetap ada keinginan untuk bunuh diri.” Celetukku saat itu.

Oke, akhirnya kami sepakat bahwa ini terkait dengan pengalaman spiritual. Done.

Beberapa waktu lalu banget (udah lama maksudnya), aku baca sebuah artikel tentang hormon yang memicu seseorang untuk bunuh diri. Nah loe, gimana coba? Hahhaa, aku nyerah deh kalau sangkut-pautnya dengan hormon. Tapi aku lupa artikelnya dimana, sudah ku cari nggak nemu. Maafkan. Atau teman-teman ada yang tau tentang hormon ini?

Kalau berdasarkan analisa tulisan tangan dan diperkuat dengan cerita teman-teman yang bersangkutan, aku menarik benang merah alasan teman-teman berpikiran untuk bunuh diri: ketakutan yang berlebih, kecewa yang berlebih, dan trauma. Nah, bagiku yang trauma inilah yang lebih mengkhawatirkan.

Kenapa? Karena trauma muncul dari sesuatu yang menyakitkan. Orang yang sakit cenderung akan menyakiti (baik pada orang lain maupun dirinya sendiri).

Nah, orang yang trauma, belum bisa berdamai dengan masa lalu, masih terbebani masa lalu, atau memendam masa lalu, bisa terdeteksi juga dengan tulisan tangan. Dari sinilah aku belajar banyak dari teman-teman. Aku semakin tidak mudah menghakimi. Setidaknya membuatku lebih bersyukur. Eh ini bukan kemudian aku membenarkan sikap dan tindakan bunuh diri loh ya. Karena bagaimanapun juga tindakan itu tidak dibenarkan dalam agama mana pun. Terutama agama dan kepercayaan yang aku anut.

Ciri yang mudah ditemukan dari tulisan tangan seseorang yang ingin bunuh diri ini ialah adanya patahan ke bawah di akhir sisi paling kanan dalam satu baris, baik berupa kata maupun suatu tanda baca. Biar mudah membayangkannya bisa cek gambar berikut:

ciri bunuh diri
yang ini patahan berupa tanda baca

Boleh percaya boleh enggak, tapi aku memilih untuk percaya. Dengan kita mengenal suicidal traits dalam tulisan tangan seseorang, semoga dapat membantu untuk mengetahui orang-orang di sekitar kita agar terhindar dari terajdinya percobaan bunuh diri.

berita bunuh diri
Mental health problem is real

Peluk erat untuk teman-teman yang sedang diuji dengan hal-hal yang kurang menyenangkan. Percayalah, semua yang terajdi adalah yang terbaik. Tetap berprasangka baik pada Tuhan. Bukankah kita percaya bahwa Dia sebaik-baik pembuat skenario? Semoga Allah selalu menggenggam hati kita. mempertemukan dengan orang-orang baik. Menempatkan pada atmosfer yang membantu agar kewarasan tetap terjaga. Semoga kita menjadi bagian dari hamba-hamba Alloh yang selalu dalam bimbinganNya.

 

 

Fiuhhhh, Alhamdulillah. Kelar juga nulis ginian. insyaAllah ini pertama dan terakhir kalinya nulis tentang bunuh diri ya. Habis ini kita piknik =D semoga tulisan ini bermanfaat. Maafkan aku. Aku menyayangi kalian. Terima kasih.

Kakak tertarik belajar lebih lengkap lagi tentang analisa tulisan tangan? Atau mau dianalisa tulisan tangannya aja? Bisa juga sekalian dibisikin caranya ‘berbenah’ melalui terapi tulisan tangan, graphology. Sila kontak ya… 😉 -bhahahhaa, paragraf ini mengandung iklan-

terapi
salah satu klien yang sudah merasakan manfaat graphoterapy. jadilah bagian dari kami

Semua yang terjadi atas izin Allah. Semoga semakin menambah keimanan kita pada Dzat pemiliki hidup dan mati. Barakallahufiikum

Yogyakarta, 24 Oktober 2018

One Reply to “Bunuh Diri dan Deteksi Tulisan Tangan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *